
GEREJA KRISTEN JAWA BREBES
Sambutan Ketua Majelis
Salam dalam kasih Kristus,
Seiring bergulirnya waktu, TUHAN Sang pengasih telah membentuk GKJ Brebes dengan berbagai dinamika pertumbuhan dan perkembangan yang ada; di mulai dari gagasan Pdt. Budi Mardono, S.Th dalam Sidang Klasis Tegal XIX Tahun 1988 sebagai usulan dari GKJ Tegal untuk mendewasakan wilayah Tanjung, Brebes dan Jatibarang. Berlanjut pada keputusan Sidang Klasis Tegal XXI Tahun 1990 yang menetapkan ke 3 (tiga) wilayah yaitu : Brebes, Tanjung dan Jatibarang menjadi satu dan didewasakan menjadi Gereja Kristen Jawa Brebes, yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 1990, bertepatan pada hari Selasa Kliwon yang dalam penanggalan Jawa dikenal dengan hari Anggoro Kasih.
Kini 25 tahun sudah perjalanan terlewati sebagai gereja dewasa, rasa syukur atas penyertaan-Nya tetap terus akan melandasi perjalan panjang yang akan ditempuh ke depan. GKJ Brebes juga harus senantiasa belajar untuk terus berani menghitung berkat-Nya serta mempertanggung jawabkan dalam praktik kehidupan bergereja, berbangsa dan bermasyarakat.
Dalam sukacita saat ini, kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada segenap jemaat GKJ Brebes, semoga semangat untuk terus berakar, tumbuh dan berbuah dalam kebersamaan Roh damai sejahtera Kristus senantiasa mewarnai hidup bergereja kita. TUHAN Sang Pengasih telah memberkati rancangan rangkaian HUT ke-25 GKJ Brebes yang telah dan sedang kita lalui bersama. Di awali dengan kegiatan Lomba Olah Raga dan Rekreasi bersama, Kamis, 19 Februari 2015; Festival Pujian Rohani, Sabtu, 21 Maret 2015; Bhakti Sosial (Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat) dan Donor darah, Minggu 19 April 2015; dan puncaknya hari ini Jumat 22 Mei 2015, Ibadah Syukur dan Temu Kangen. Dengan mengundang seluruh jemaat (masih aktif maupun ‘mantan jemaat’), perwakilan gereja tetangga, utusan gereja-gereja Klasis Pekalongan Barat dan segenap pendukung.
Bagaikan sebuah bahtera yang masih mengarungi samudra kehidupan, GKJ Brebes di ajak untuk bersama menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri, melainkan bersama dengan yang lain dalam sebuah kesadaran bahwa dunia ini adalah rumah bersama dalam segala keberagaman yang ada.
Majelis memberikan apresiasi kepada Panitia HUT ke 25 GKJ Brebes yang telah mempersiapkan segala sesuatu dengan berjerih lelah sehingga kegiatan demi kegiatan dapat berjalan dengan lancer.Demikian juga kepada segenap undangan yang hadir, rekan-rekan sepelayanan dari gereja-gereja di Brebes maupun di Klasis Pekalongan Barat. Segenap jemaat yang masih aktif maupun yang telah ada di luar kota. Para donasi dan pemerintah daerah Kabupaten Brebes.
Pada akhirnya kami berharap melalui HUT ke 25 GKJ Brebes ini menjadikan kita semua semakin mantap menjalani fungsi sebagai pelaku-pelaku kehendak Tuhan yang baik, benar dan berguna untuk kemuliaan namaNya.
Pdt. Agus Yusak, S.Th.,M.Min
Kembang Tumbuhnya
GKJ Brebes
Kehidupan antar umat beragama didaerah Kabupaten Brebes kelihatannya memang aman dan damai. Namun dalam prakteknya tidaklah sesuai dengan keinginan iman kristani, bagi umat kristen yang tinggal dipedesaan dan mempunyai putra-putri yang sekolah ditingkat SD dalam kenyataanya tidak mendapatkan pelajaran agama kristen dari pihak sekolah.
Menjelang lahirnya GKJ Brebes, barulah masalah pendidikan agama kristen secara perlahan mulai dibenahi. Untuk tingkat SLTP/SLTA, GKJ Brebes menunjuk jemaat yang berprofesi sebagai guru disekolah tersebut untuk berkenan mengajar agama kristen, hal tersebut ternyata dapat diterapkan sampai diwilayah Tanjung dan Jatibarang. Akan tetapi yang ada ditingkat SD pihak GKJ Brebes hanya mampu membuatkan soal-soal agama, bilamana akan dilaksanakan ulangan umum dengan nara sumber guru-guru sekolah minggu.
Hingga saat ini di Kabupaten Brebes, belum memiliki guru agama kristen yang difinitif yang telah resmi diangkat sebagai guru agama oleh Pemerintah. Mereka yang mengajar agam kristen hanya berbekal surat penugasan dari Badan Kerjasama Gereja (BKSG) dan persetujuan dari pihak Kepala Sekolah yang bersangkutan.
Beberapa hal yang senantiasa membuat kekecewaan dan menusuk perasaan umat kristen adalah masalah pemakaman bagi warga gereja yang meninggal dunia. Baru sekitar tahun 1990, Pemerintah Kabupaten Brebes menunjuk tempat pemakamman bagi umat kristen yaitu dikompleks bekas pemakaman warga Tionghwa di dukuh Muara Kelapa di Desa Sengon Kecamatan Tanjung dan di Desa Klampok Kecamatan Wanasari. Itupun status tanahnya tidak jelas dan situasi lokasinya penuh dengan tumbuhan ilalang/ruput liar, dan saat ini juga banyak bangunan liar yang dibangun oleh warga masyarakat yang tidak bertanggungjawab/tanpa ijin dari pengelola pemakaman kristen. Disamping juga ada beberapa kendala yaitu bilamana ada warga kristen yang akan dimakamkan maka bermunculan premanisme. Beberapa tahun sebelum tahun 1990 pernah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan yaitu adanya warga kristen yang meninggal dunia tetapi dilarang untuk dimakamkan dipemakaman umum, akan tetapi pihak yang berwajib memberikan jalan keluar yaitu dapat dilangsungkan pemakaman sepanjang tidak menggunakan identitas kristiani (tidak menggunakan salib).
Mulai awal tahun 1995 peran serta GKJ Brebes mulai dikenal, baik dikalangan Klasis maupun Sinode, ini terbukti beberapa posisi jabatan baik ditingkat Klasis maupun Sinode dijabat oleh Pdt. Agus Yusak, S.Th. ini merupakan nilai tambah bagi jemaat GKJ Brebes dengan sendirinya informasi dan program baik dari Sinode maupun Klasis cepat diterima oleh jemaat GKJ Brebes.
Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, 25 tahun warga jemaat GKJ Brebes semakin bertambah dewasa. Pembinaan dan pengembangan iman warga jemaat selalu dilakukan dengan pedoman dan mengacu program dari Klasis maupun Sinode. Juga pembangunan fisik antara lain ruang untuk sekolah minggu dan pembangunan teras gedung gereja diwilayah Jatibarang, pembangunan pagar halaman depan gedung gereja di Brebes dan mengupayakan pengadaan rumah ibadah diwilayah Tanjung.
Si Bungsu tetap akan tumbuh dan berkembang membawa kabar kesukaan Sang Kristus walaupun hidup ditanah pantura yang tandus dan gersang.