top of page

GEREJA KRISTEN JAWA BREBES
Sejarah Wilayah Brebes
Sekitar tahun 1942 di Kota Brebes tepatnya di kampung Saditan berdomisili keluarga Kristiani yaitu keluarga bpk Djajoes Atmowinoto dari Salatiga, beliau berkecimpung dibidang pendidikan (guru). Dirumah beliau sekitar tahun 1956 – 1960 pernah digunakan untuk persekutuan ibadah kecil yang didukung oleh keluarga bpk Istiar Driopranoto dari Jatibarang dan keluarga bpk Radjimin DS dari Tanjung, yang melayani adalah bpk Ds Prawirotirto.
Namun kegiatan persekutuan ibadah kecil ini berakhir begitu saja dengan timbulnya rayonisasi permasalahan antara GKJ dengan Gereja Parepatan Agung atau GKJTU ( Gereja Kristen Jawa Tengah Utara ).
Cukup lama setelah itu terutama di Kota Brebes tidak nampak warga Kristiani terutama jemaat GKJ. Baru ditahun 1972 hadir bpk. Ir. Soediman yang bertugas sebagai Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. Selang beberapa tahun kemudian bermunculan warga Kristen yang lain diantaranya sdr. Surjo Adi Purwono, ibu Suparni Pardojo, keluarga ibu Suradjio, , keluarga bpk Tri Prasetyo, keluarga bpk Sugianto Prawiroharsono, sdri Titik Ernawati, keluarga bpk P.A Pramono, sdr Sasmayanu Triyogi dan keluarga bpk Hartojo (Danres, pada saat itu). Beberapa keluarga ini setiap dua minggu sekali mengadakan persekutuan doa yang dibimbing oleh bpk Pdt Budi Mardono, S.Th, bertempat dirumah keluarga bpk. Ir. Soediman dan setiap hari minggu mengikuti ibadah minggu di GKJ Tegal.
Seiring dengan perjalanan waktu di lahan yang gersang Tuhan berkenan menaburkan benih-benih yang baru dengan berturut-turut hadir keluarga bpk Pudjo Sumedi, keluarga bpk Bambang Sunardi, keluarga A.K Budhiasto, keluarga bpk Sukadi Mertopati, sdr Sigit Listyowarno, sdr Agus Nugroho Jati, sdri Indartini, keluarga bpk Sugiarto, sdr Tri Pramono, sdr Sri Hartono dan juga keluarga bpk Sumadi, bpk Soedarno serta sdr Poerwanto, kemudian disusul dengan keluarga yang lain.
Karena jumlah jemaat semakin bertambah maka dengan bimbingan bpk Pdt Budi Mardono, S.Th agar benih-benih yang ada dapat terpelihara dengan baik dan dapat tumbuh subur, untuk itu Brebes diarahkan menjadi Pepanthan dan guna kelancaran urusan gerejani maka dengan melalui pemilihan majelis di GKJ Tegal tersusun organisasi kemajelisan untuk Brebes sebagai berikut : Ketua: bpk Sugianto Prawiroharsono, Sekretaris: bpk Pudjo Sumedi.Bendahara: bpk Tri Prasetyo.
Saat itu kebaktian hari minggu dilaksanakan dengan cara berpindah-pindah bergantian dirumah bpk Sugianto Prawiroharsono, bpk Pudjo Sumedi (rumah dinas LP Brebes), bpk Soediman dan bpk Bambang Sunardi, sementara untuk kegiatan sekolah minggu dilaksanakan secara menetap dirumah bpk Soediman (rumah dinas).
Pada kenyataannya dengan dilaksanakannya kebaktian minggu secara berpindah-pindah sering menimbulkan masalah yang mana jemaat sering bingung bilamana tidak melaksanakan ibadah secara rutin setiap hari minggu. Melihat kenyataan ini maka majelis memutuskan bahwa ibadah minggu dilaksanakan secara menetap dirumah keluarga bpk Bambang Sunardi ( sekarang berubah menjadi RS Bersalin milik dr. Fauzan ). Dan secara resmi pula Brebes menjadi Pepanthan/wilayah yang menginduk di GKJ Tegal yaitu pada tanggal 27 Desember 1987 pada saat perayaan Natal perdana di Brebes.
Beberapa waktu sebelumnya sebenarnya jemaat sudah merindukan memiliki tempat ibadah yang layak, namun baru pada tahun 1986 dapat tersusun Panitia Pembangunan Gedung Gereja. Puji Tuhan, kerja keras panitia dan kebersamaan serta gotong royong jemaat juga dukungan yang besar dari bpk Harmadji selaku Ketua Komisi Ekonomi Jemaat GKJ Tegal, ternyata berkat Tuhan selalu mengalir sehingga dana pembangunan dapat terhimpun dan pada tahun 1987 panitia dapat membeli sebidang tanah seluas 3.800 m² yang terletak dijalan Taman Siswa, sebelah selatan stadion Karangbirahi, ± 100 meter disebelah selatan SMA Pusponegoro ( sekarang SMU Negeri III ).
Segala persyaratan administrasi untuk memperoleh ijin mendirikan bangunan segera diurus mulai tingkat Desa, Kecamatan sampai Kabupaten; semua dapat berjalan mulus. Namun menjelang peletakaan batu pertama yang direncanakan pada tanggal 8 Nopember 1987, panitia menerima himbauan lesan dari Bupati Brebes (bpk Syafrul Supardi) agar rencana pembangunan gedung GKJ Brebes dipindahkan kesekitar Jalan Yos Sudarso Brebes dengan pertimbangan agar menjadi satu kompleks dengan gereja-gereja yang lain.
Melalui pergumulan dan doa serta upaya panitia beserta seluruh warga jemaat, puji Tuhan maka dalam waktu yang tidak terlalu lama panitia dapat membeli lagi sebidang tanah yang baru di jalan Yos Sudarso (sebelah selatan GPPS Eben Haezar) seluas 1.750 m² (lebih sempit dari lokasi semula) dengan Sertifikat Hak Milik nomor 2934 yang dibeli dengan harga Rp 12.500.000.-
Dengan mohon petunjuk bpk Bupati Brebes maka pada tanggal 6 Juni 1989 mulailah pembangunan gedung GKJ Brebes dengan berbekal perijinan yang lama.
Saat-saat pembangunan gedung gereja ada hal-hal yang sangat membanggakan dan terkesan. Saat itu jemaat dapat melihat rasa kebersamaan dan rasa gotong royong yang tinggi walau hanya ada beberapa kepala keluarga jemaatnya, namun setiap hari Jum’at mulai pukul 13.00 dan setelah kebaktian minggu mulai dari anak sekolah minggu hingga jemaat dewasa, berkumpul dilokasi bangunan saling bahu membahu bekerja menurut kemampuan masing-masing. Dan yang lebih terkesan ada keikut sertaan/partisipasi dari beberapa orang non Kristiani (para narapidana dari LP Brebes ikut membantu dan mendukung tenaga dengan penuh sukacita dan tanpa paksaan).
Karena keterbatasan dana, memang pihak panitia hanya memperkerjakan beberapa orang tukang (tenaga bayaran), namun uniknya ribuan genting dapat terpasang dengan rapi, disamping itu juga dimanfaatkanya tanah hasil pengurasan saluran serta bongkaran kantor BRI Brebes untuk menimbun/merapikan halaman depan gereja yang sebatas untuk jalan masuk, hal ini juga dikerjakan secara kerja bakti/gotong royong oleh jemaat tanpa melihat adanya perbedaan status antara pimpinan, bawahan, anak serta bapak/ibu maupun/bahkan sampai para nara pidana dengan hakim yang memvonis perkaranya.
Dengan dukungan Sinode, GKJ se Klasis Tegal dan teman-teman seiman baik yang berdomisili di Brebes, Tegal dan sekitarnya maupun saudara seiman yang ada di luar kota, puji Tuhan setelah proses pembangunan berjalan selama 2 ½ bulan bangunan fisik gedung gereja telah dapat berdiri dan dipergunakan untuk beribadah walaupun masih beralaskan tanah dan belum mempunyai jendela/ pintu, serta tembok yang belum diplester, penggunaan untuk beribadah ini dimulai pada tanggal 2 Juli 1989 dengan memperoleh fasilitas bantuan kursi dan meja dari GKJ Tegal.
Dalam perjalanan pendewasaan GKJ Brebes mempunyai kisah-kisah menarik yang perlu diketahui dan direnungkan baik oleh jemaat GKJ Brebes juga oleh jemaat GKJ-GKJ yang lain yaitu :
-
GKJ Brebes adalah GKJ yang terakhir mandiri/dewasa ditingkat Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah
-
GKJ Brebes dewasa setelah dalam kurun waktu 20 tahun keanggotaan Klasis Tegal tidak ada tambahan anggota (tahun 1969 – 1989, Klasis Tegal hanya beranggotakan 6 GKJ)
-
GKJ Brebes dewasa merupakan peristiwa yang sangat indah, sebab mencakup Pepanthan/wilayah dari dua GKJ yaitu Pepanthan Brebes dan Tanjung dengan induknya GKJ Tegal (terletak di Kodya Tegal), sedang Pepanthan Jatibarang dengan induknya GKJ Slawi (terletak di Kabupaten Tegal)
Kiranya perlu menjadi catatan, peristiwa ini tidak bisa terjadi di wilayah Jakarta bahkan mungkin tidak bisa terjadi pula di GKJ-GKJ yang lain, sebab dalam kenyataannya akan menghadapi gejala psiklologis.
bottom of page
