top of page
                Kedatangan keluarga bpk/ibu Martoyo tahun 1946 yang berdomisili di Kecamatan Ketanggungan, membuat keluarga bpk Radjimin DS merasa tidak sendiri lagi terlebih keluarga ini bekerja dengan profesi yang sama yaitu sebagai tenaga paramedis, ternyata pertemuan yang tanpa direncana itu, kedua keluarga ini saling lebih terbuka ketika manakala tahu bahwa mereka adalah sama-sama sebagai pengikut Kristus.
                 Kesetiaan yang sedemikian itu terus berlangsung walaupun banyak tantangan dan hambatan baik dari masyarakat, kondisi alam maupun badai kehidupan, semakin mempersulit pertumbuhan dan perkembangan sebagai umat Kristus, tetapi hari lepas hari dilalui dengan tabah dan ketekunan bekerja diladang Tuhan membuat tambah kuatnya iman mereka.
                Dengan menempati rumah bpk Radjimin DS mulai tahun 1956, kedua keluarga tersebut mulai mengadakan kebaktian minggu dua kali tiap bulan dan ditambah dengan kehadiran keluarga bpk R.Ch Soetijo Hadi di Tahun 1958 yang berdomisili di Losari. Kebaktian dilayani oleh bpk Isbandi sebagai Guru Injil yang membantu bpk Ds. Prawirotirto selaku Pendeta GKJ Tegal bergantian dengan Majelis untuk Tanjung (bpk Radjimin DS dan bpk Martoyo)
             Puji Tuhan dari tahun ke tahun jumlah jemaat semakin bertambah dengan adanya droping guru-guru SD dari Yogyakarta, Surakarta serta Klaten dan sekitarnya yang mendapat tugas dinas dan ditempatkan di Kecamatan Tanjung, Kersana, Ketanggungan, Losari dan Banjarharjo ditambah lagi beberapa warga Kristen yang bekerja dilingkungan pabrik gula Ketanggungan Barat (Kersana).
             Dengan bertambahnya jumlah jemaat maka pada tanggal 19 Desember 1958, bpk Radjimin DS memindahkan tempat ibadah yang semula dirumah yang ditempati keluarga kerumah tempat tinggal milik bpk Radjimin DS yang ada disebelah utara jalan (didepan rumah keluarga). Dan pada tanggal tersebutlah sekaligus Tanjung diresmikan menjadi Pepanthan dari GKJ Tegal, dan mulai ibadah dilayani setiap hari minggu dan sakramen juga dapat dilayani di Tanjung.
             Setelah bpk Ds. Prawirotirto emiritus pada bulan Mei 1962, Pepanthan Tanjung sebagai bagian dari GKJ Tegal pernah dilayani oleh bpk Ds. S. Dwidjoasmoro dari GKJ Sokaraja sebagai pendeta konsulen dengan dibantu guru Injil bpk Isbandi serta bpk Ds. Dwidjowiyono, Pendeta GKJ Tegal yang ditahbiskan pada tanggal 4 Agustus 1964. Karena guru injil bpk Isbandi dipanggil sebagai Pendeta di GKJ Klampok Banjarnegara maka petugas guru injil diganti oleh bpk Darmosusastro inipun berlangsung tidak lama hal tersebut dikarenakan bpk Darmosusastro dipanggil sebagai Pendeta di GKJ Wonosari Gunung Kidul, sebagai penggantinya adalah bpk Martoatmodjo yang ditempatkan di Pepanthan Tanjung.
         Bpk Ds. Dwidjowijono melayani sebagai Pendeta di GKJ Tegal sampai dengan bulan Desember 1972 dan pada tanggal 12 Desember 1973 GKJ Tegal menahbiskan Pendeta atas diri bpk Budi Mardono, S.Th yang dalam pelayanannya karena bpk Martoatmodjo pensiun maka untuk Pepanthan Tanjung ditempatkan tenaga dari Klasis yaitu sdr Sumaryanto dan hanya selama 4 tahun, karena sdr Sumaryanto pada tanggal 7 Agustus 1979 ditahbiskan menjadi Pendeta di GKJ Pemalang.
            Pergumulan berlanjut sepeninggal Bp/Ibu Radjimin DS tahun 2004,  atas niat ahli waris tanah yang ditempati ibadah akhirnya  dibeli oleh Majelis GKJ Brebes senilai Rp 200.000.000,-  Di sini peran Tuhan Yesus melalui hamba-Nya, dr. Harmadji Sp.PD. benar-benar luar biasa. Sejak tahun itu upaya melakukan renovasi berjalan.Namun rupanya niat baik majelis berserta jemaat belum seutuhnya mendapat respon positif dari Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes. Dengan alasan Peraturan Bersama Dua Menteri harus diikuti. Sekalipun demikian Majelis GKJ Brebes melalui Panitia Pembangunan/Renovasi Gereja Wil. Tanjung tak pernah patah semangat. Aturan yang dikehendaki sesuai Perber. Dua Menteri di lengkapi, namun sekali lagi ‘ketidakberanian’ pimpinan daerah membuat terhambatnya proses renovasi gereja di wilayah Tanjung hingga saat ini.
Kami hanya berdoa, agar pada saatnya benar-benar hadir pemimpin daerah yang amanah, berani menegakkan aturan, jujur, dan mampu mengelola keberagaman dengan baik tanpa harus ketakutan menghadapi tekanan yang ada.

Sejarah Wilayah Tanjung

 

              Pada tahun 1944 khususnya di Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes datang satu keluarga dari daerah Yogyakarta yaitu keluarga bpk/ibu Radjimin Dibijosoemarto, keluarga inilah yang merupakan cikal bakal Persekutuan Kristen (GKJ) dan beliau berdua bekerja sebagai tenaga paramedis (dari Petronela Hospital), merupakan seorang yang benar-benar militansi iman Kristen untuk menjadi saksi Kristus ditengah-tengah daerah yang rawan dan penuh tantangan.
            Tantangan yang sangat berat saat itu adalah menghadapi penjajah dan pemberontakan DI/TII pada saat bergolaknya Gerakan Tiga Daerah, karena menyangkut keselamatan keluarga.Sehingga keluarga ini tidak jarang harus mengungsi dari Tanjung menyelamatkan keluarga lari kedaerah pedalaman disebelah selatan Banjarharjo yang mana saat itu belum ada sarana/alat transportasi.Sedemikian berat ancaman dan tantangan yang dihadapi namun tidak membuat keluarga ini mundur dari iman Kristen, lewat profesinya yang para medis, keluarga ini sangat dibutuhkan dan disegani dimasyarakat saat itu. Sehingga nama bpk Radjimin Dibijosoemarto tercantum diantara nama-nama yang terukir dalam prasasti sebagai pendiri Masjid Agung Tanjung (bisa dilihat bilamana prasasti yang asli tidak diganti).
           
© 2021 Team Audio Visual GKJ Brebes - Tanjung - Jatibarang
bottom of page