top of page

GEREJA KRISTEN JAWA BREBES
Sejarah Wilayah Jatibarang
Sebelum tahun 1950 didaerah Jatibarang ada beberapa orang Kristiani warga Kristen Bala Keselamatan dan warga GKI Tegal. Pada tahun 1950 keluarga bpk Istiyar Drio Pranoto pindah dari GKI Bumiayu ke GKJ Tegal dan berdomisili di Jatibarang, beliau bekerja dibidang paramedis. Mulai tahun itulah bpk Istiyar Drio Pranoto berupaya menghimpun warga Kristiani didaerah Jatibarang untuk bersama bersekutu dalam ibadah bersama dirumah keluarga bpk Istiyar Drio Pranoto.
Ibarat menabur benih ditanah yang gersang, namun Tuhan tetap memberkati dan bpk Istiyar Drio Pranoto tidak putus asa. Terbukti persekutuan itu hari demi hari bertambah jumlahnya, dengan hadirnya kel. ibu Sumardjono, kel. bpk.S.Sutriono, kel. bpk Sumowidjojo dan kel.bpk Oerip Sasmito.
Sebelas tahun setelah kehadiran kel.bpk Istiyar Drio Pranoto di Jatibarang persekutuan yang dihimpun berkembang dan membuahkan hasil dengan diresmikannya Jatibarang menjadi Pepanthan dari GKJ Tegal. Kebaktian awal dari Pepanthan Jatibarang dilayani oleh bpk Ds Prawirotirto pada tanggal 12 Nopember 1961 yang juga melayani Sakramen Baptis Suci bagi Agus Soleman Isbudiono, salah satu putra dari bpk Istiyar Drio Pranoto.
Benih di tanah yang gersang ternyata tetap tumbuh dan berbuah, berkat dan karunia serta kebahagiaan jemaat diwujudnyatakan kembali oleh Tuhan di tahun 1962 dimana bpk dan ibu Oerip Sasmito serta putra yang pertama yaitu Tjipto Santoso memperoleh meterai baptis suci. Antara tahun 1962 – 1965 jumlah jemaat bertambah lagi dengan hadirnya keluarga bpk Taip, keluarga bpk Basuki Sopater, keluarga bpk Moersinto, keluarga bpk Pinggir Pramono dan beberapa karyawan dari pabrik gula Jatibarang.
Seiring berkembangnya Pepanthan Jatibarang jemaat diperhadapkan pada masalah kosongnya tenaga Pendeta di GKJ Tegal (Induknya) lantaran mulai bulan Mei 1962 bpk Ds Prawirotirto memasuki emiritus dan pindah ke Salatiga, sehingga tugas pelayanan dari gereja induk dilaksanakan oleh guru injil yaitu bpk Isbandi dan Pendeta konsulen bpk Ds S. Dwidjoasmoro dari GKJ Sokaradja Banyumas dengan mempertimbangkan luasnya daerah pelayanan, maka dalam rapat pleno majelis GKJ Tegal yang dipimpin oleh bpk Soenjono HS dan dihadiri oleh bpk Ds S. Dwidjoasmoro sebagai Pendeta Konsulen pada tanggal 1 Nopember 1963 diputuskan untuk memanggil tenaga Pendeta, sekaligus merupakan pembiakan GKJ Tegal dengan pembagian wilayah pelayanan sebagai berikut :
-
Tegal bagian utara dengan nama GKJ Tegal dengan daerah pelayanan meliputi Tegal kota, Muarareja sampai Tanjung.
-
Tegal bagian selatan dengan nama GKJ Slawi dengan daerah pelayanan meliputi Slawi, Jatibarang, Margasari, Balapulang, Prupuk dan Bumiayu.
Adapun untuk calon Pendeta, rapat juga memutuskan untuk memanggil 3 (tiga) orang calon tenaga Pendeta yaitu :1. bpk Ds S. Dwidjowijono, Pendeta dari Surakarta, 2. bpk Ds Pudjowijono, Pendeta dari Kaliceret Purwodadi, 3. bpk S. Wirjo Sumarto, guru Injil dari Kisaran Medan.
Hasil pemanggilan calon Pendeta terpilih 2 (dua) orang yaitu bpk Ds S.Dwidjowijono yang ditugasi melayani jemaat GKJ Tegal dan ditahbiskan pada tanggal 4 Agustus 1964. dan yang kedua adalah bpk S.Wirjo Sumarto yang ditugasi melayani GKJ Slawi. Namun karena bpk S.Wirjo Sumarto diwajibkan untuk menempuh pendidikan tambahan di Universitas Duta Wacana selama enam bulan, maka penahbisannya baru dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 1965. sedangkan keberadaan GKJ Slawi secara resmi didewasakan pada tanggal 15 Agustus 1967.
Peristiwa sejarah yang tidak dapat dilupakan diantaranya adalah dengan lahirnya Klasis Tegal pada tanggal 17 Juli 1969, dimana untuk sidang I dari Klasis Tegal sebagai gereja penghimpun adalah GKJ Slawi, tetapi penyelenggaraannya diserahkan ke Pepanthan Jatibarang. Sidang berjalan dengan sukses, sebagai moderamen adalah ketua : bpk Ds.Wirjo Sumarto dan bpk Ds. Darmo Susanto, sedang sebagai sekretaris adalah bpk Oerip Sasmito dan bpk Ernest Saweho.
Dari Pepanthan Jatibarang juga ada satu hal yang kiranya perlu diketahui bersama, yaitu jemaat Jatibarang adalah sebagai pelopor yang mengganti penggunaan Tuwung menjadi Sloki dalam pelayanan Perjamuan Kudus.
Sebuah catatan kecil, pada awalnya salah satu jemaat merasa was-was dalam mengikuti perjamuan kudus dengan menggunakan satu tuwung bergantian. Dengan adanya keluhan itu majelis mengambil langkah tanpa persetujuan bpk Ds Wirjo Soemarto dalam pelayanan perjamuan kudus dengan menggunakan sloki. Oleh bpk Ds Wiryo Soemarto hal tersebut diinformasikan ke Sinode GKJ dan ditanggapi oleh Sinode dengan menugasi dua orang utusan ke GKJ Slawi, yang pada intinya menghimbau agar pelayanan Perjamuan Kudus di Pepanthan Jatibarang kembali/tetap menggunakan tuwung.
Namun ketika majelis Pepanthan Jatibarang yang diwakili oleh bpk Basuki Sopater dan bpk Oerip Sasmito mengajukan pertanyaan : bagaimana dengan pelayanan Perjamuan Kudus di gereja-gereja besar, misal di Solo yang dilayankan dalam kelompok-kelompok kecil dengan masing-masing satu tuwung, apakah tidak dapat dikembangkan menjadi dalam bentuk sloki?. Menanggapi pertanyaan tersebut, akhirnya utusan Sinode memutuskan memperbolehkan menggunakan sloki, tetapi dengan pesan hal tersebut jangan sampai diketahui oleh GKJ lain diluar Pepanthan Jatibarang. Tetapi kenyataannya sejak peristiwa itu hampir semua GKJ akhirnya menggunakan sloki dalam pelayanan Perjamuan kudus.
Seiring bertambahnya jumlah jemaat di Pepanthan Jatibarang, memunculkan rasa keinginan untuk memiliki tempat ibadah yang lebih layak. Puji Tuhan keluarga bpk Soeparno Brotosiswojo, beliau berdua (suami – isteri) berprofesi sebagai tenaga paramedis di PG Jatibarang, berkenan dengan penuh sukacita mempersembahkan sebidang tanah miliknya seluas 1230 m² SHM nomor 1201 desa Jatibarang Lor, guna dibangun sebuah gedung tempat ibadah, yang terletak dijalan Jatibarang – Tegalwulung.
Selama 28 tahun ibadah minggu dirumah keluarga bpk Istyar Driopranoto, dengan selesainya gedung tempat ibadah maka pada tanggal 4 Juni 1989 disamping diadakan kebaktian peresmian gedung juga sebagai berakhirnya kebaktian minggu dirumah keluaga bpk Istiyar Driopranoto. Kebaktian saat itu dipimpin oleh bpk Ds S Wirjo Soemarto, dengan adanya sarana rumah ibadah ini warga jemaat semakin lebih giat dan bersemangat bekerja di ladang Tuhan. Secara resmi Pepanthan Jatibarang dilepas dari GKJ Slawi pada tanggal 22 Mei 1990 menjadi wilayah Jatibarang dalam lingkup GKJ Brebes.
bottom of page
